18 Desember 2007


ANGGARAN NEGARA
Lambatnya Pencairan
Hambat Pertumbuhan Ekonomi


Selasa, 18 Desember 2007
JAKARTA (Suara Karya): Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak heran dengan fenomena rush anggaran di kementerian dan lembaga negara. Rush anggaran terjadi dalam dua tahun belakangan ini. Anggaran yang tidak terealisasi juga membuat pertumbuhan ekonomi berjalan lambat.
"Itu karena sistem penganggaran kita lemah, tim yang bekerja masih muka-muka lama yang cara berpikirnya tidak banyak berubah. Sehingga tidak mengherankan bila terjadi rush untuk mengejar realisasi anggaran," kata anggota Komisi XI DPR Ramson yang dihubungi di Jakarta, Senin (17/12) kemarin.
Ramson menegaskan, sepanjang sistem penganggaran tidak berubah, dipastikan tahun depan hal yang sama kembali terjadi. Padahal, jika sesuatu pernah terjadi, apalagi kejadian yang tidak menguntungkan, mestinya segera dihentikan.
"Kita jangan terjerembab di lobang yang sama. Realisasi anggaran dan jor-joran di akhir tahun sudah berlangsung sejak 2005. Hal yang salah ini tidak juga menjadi pelajaran," katanya.
Menurut Ramson, dengan rendahnya realisasi anggaran, multiplier effect dari anggaran itu juga relatif rendah. Dia mengemukakan beberapa hal seperti masalah pengangguran, kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang seharusnya semua lebih baik tetapi tidak memenuhi harapan.
"Saya tidak yakin pertumbuhan 6,3 persen tercapai tahun ini, karena tidak ada daya dukung anggaran. Bila realisasi anggaran lebih awal, semua akan teratasi. Pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai sasaran," ujarnya.
Ke depan, Ramson berharap cara pencairan anggaran yang selalu jor-joran di akhir tahun diubah.
Sementara itu, ekonom Hendri Saparini minta pemerintah menjelaskan sebab musabab rush di KPPN menjelang akhir tahun, karena hal sama terjadi dua tahun belakangan.
"Itu (rush) karena apa? Apa prosedurnya atau masalah administrasi, semua harus dijelaskan," kata Hendri Saparini.
Dia tegaskan, rush di KPPN itu menjadi penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi, buntunya perkembangan sektor riil, sehingga berdampak kepada sulitnya pengatasan masalah pengangguran dan kemiskinan.
"Kalau realisasi anggaran rendah, jelas akan berdampak buruk pada ekonomi, pertumbuhan lambat, sektor riil tidak bergerak seperti sekarang, dan kemiskinan juga tidak teratasi," ujarnya.
Hendri mengatakan, anggaran penting untuk melaksanakan program, dan bahkan terobosan ekonomi yang dibutuhkan saat kemiskinan dan pengangguran cenderung naik. (Indra)

Tidak ada komentar: