10 Desember 2007

wow

aduh hari ini lelah seklai....

WAKIL KETUA DPR Agung: Rapat Paripurna DPR

WAKIL KETUA DPR
Agung: Rapat Paripurna DPR
Bahas Pengganti Zaenal






Selasa, 11 Desember 2007
JAKARTA (Suara Karya): Ketua DPR HR Agung Laksono mengatakan, ada tiga opsi atau pilihan untuk mengisi kursi wakil ketua DPR yang kosong setelah lengsernya Zaenal Maarif.
"Ada tiga opsi dan kita akan pilih yang terbaik," kata Agung Laksono kepada wartawan, di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (10/12).
Menurut Agung, pimpinan DPR akan menawarkan tiga pilihan skenario untuk menentukan mekanisme pemilihan. Pertama, dikembalikan ke Fraksi Bintang Reformasi (PBR), kedua dipilih secara proporsional. Ketiga, calon anggota dipilih melalui mekanisme voting dalam Rapat Paripurna DPR.
Bila opsi pertama disepakati, kata Agung, kursi wakil ketua DPR diserahkan kepada Fraksi Bintang Reformasi seperti paket yang lalu. "Siapa yang ditunjuk menjadi wakil ketua DPR terserah kepada Fraksi Bintang Reformasi, " ujarnya.
Pilihan kedua secara proporsional berdasarkan jumlah komposisi anggota dan pimpinan DPR. "Ada yang mengusulkan agar pengisian wakil ketua DPR diurut lagi berdasarkan proposional kursi di DPR. Jadi, ketuanya dari Fraksi Partai Golkar, didampingi wakil dari PDIP, PPP, PD dan seterusnya," tuturnya.
Pilihan ketiga, menurut Agung, dengan melakukan pemungutan suara di Rapat Paripurna DPR.
"Dengan ketentuan, partai-partai yang sudah punya wakil di pimpinan seperti Partai Golkar, PDIP dan PKB tidak lagi mencalonkan," tuturnya.
Bila tidak ada kesepakatan, menurut dia, pilihan lainnya adalah ditundanya pengisian tersebut sampai selesainya revisi UU Susduk sekitar Januari atau Februari 2008.

Menurut Agung, hingga kini belum disepakati mekanisme apa yang akan dipilih. " Pastinya kita upayakan secepatnya, meski sampai sekarang belum disepakati mekanismenya," tuturnya.
Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menegaskan rapat pimpinan DPR menyepakati perlunya segera diisi kursi kosong yang ditingalkan Zaenal Maarif. Karena itu, dalam waktu dekat pimpinan DPR akan mengundang pimpinan fraksi-fraksi untuk menindaklanjuti masalah tersebut sebelum dibawa ke Rapat Paripurna DPR.
"Kita semua sudah sepakat bahwa kita butuh satu wakil ketua lagi. Karena itu kursi itu harus segera diisi. Karena alot, kita akan membahas lagi dalam rapat konsultasi," tutur Muhaimin.
Menanggapi usulan tersebut, Wakil Ketua Fraksi PBR Ade Daud Nasution menyambut baik karena ini sejalan dengan tata tertib DPR. (Kartoyo DS/Rully)

UU Kepailitan Bisa

UU Kepailitan Bisa
Ganggu Pasar Modal


Selasa, 11 Desember 2007
JAKARTA (Suara Karya): Kepastian hukum dalam berinvestasi di Indonesia, terutama di pasar modal, akan luntur jika para debitor dengan mudah dapat memailitkan suatu perusahaan baik yang belum terbuka (go private) maupun yang sudah terbuka (go public).
Demikian analisis dari para pembicara dalam acara talkshow bertema Undang-undang Kepailitan, yang berlangsung di Jakarta, kemarin. Tampil sebagai pembicara yakni Direktur Sarijaya Securities Zulfiyan Alamsyah dan praktisi hukum Dhaniswara K Harjono dari kantor lawyer Dhaniswara Harjono and Partner (Advocate and Mediator).
Menurut Alamsyah, hingga saat ini kasus kepailitan untuk emiten belum begitu heboh. Namun demikian, perlu disiasati jangan sampai terjadi investor merasa dibohongi.
Dikhawatirkan Undang-undang (UU) No 37/ 2004 terkait kepailitan yang berlaku saat ini dapat menjadi bom waktu dan ancaman bagi industri pasar modal.
Diduga UU tersebut banyak mengandung celah dan kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan itu sendiri (debitor) dan pihak kreditor untuk memailitkan dirinya sendiri.
"UU Kepailitan dapat menjadi bom waktu dan mengancam industri pasar modal. Sebaiknya pelaku pasar sudah dapat mengantisipasi dari awal sebelum menjadi bom waktu," kata Alamsyah.
Dia menilai, yang paling penting adalah melakukan revisi UU tersebut agar lebih baik dan tidak banyak celah yang dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang akan mengeruk keuntungan dari UU ini.
"UU Kepailitan ini mengerikan apabila banyak kasus pailit terjadi di perusahaan publik," kata Alamsyah.
Pendapat senada diungkapkan Dhaniswara. Menurut dia kreditor begitu mudahnya untuk memailitkan perusahaan. Pasal 1 dan 2 dalam UU Kepailitan mengenai cara-cara memailitkan perusahaan dapat menjadi pemicu ketidakpastian hukum di pasar modal. Menurut dia, tidak ada perbedaan perlakuan untuk memailitkan perusahaan publik dan nonpublik.
Menurut UU Kepailitan tersebut, jika ada dua kreditor sekecil apa pun dapat memailitkan perusahaan besar. Selain itu jika si debitor (perusahaan) telat satu hari saja untuk bayar utang ke kreditor, maka kreditor itu dapat mengajukan gugatan pailit.
"Ini sangat riskan dan berbahaya bagi keberlangsungan usaha perusahaan," kata Dhaniswara.
Dia menambahkan, dua kreditor yang piutangnya telat dibayar debitor dapat menjadi syarat mereka untuk memailitkan perusahaan.
"Undang-undang ini banyak dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin memailitkan perusahaan. Orang yang punya piutang satu rupiah pun dapat memailitkan perusahaan. Ini jadi masalah," tambahnya.
Dhaniswara mengatakan, UU Kepailitan ini merupakan produk yang dipaksakan dan baru diluncurkan pada 1998 lalu. UU ini sudah banyak menelan korban, di antaranya kasus pailit Manulife. Dia menyarankan sebaiknya UU ini direvisi untuk memperbaiki kelemahannya.
Selain itu, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) seharusnya dilibatkan, paling tidak dimintakan pendapatnya jika terjadi kasus pailit di perusahaan publik. (Agus)

Laporan Akhir Tahun Bisnis & Keuangan

Berita Utama
Selasa, 11 Desember 2007

Laporan Akhir Tahun Bisnis & Keuangan
Berharap Urusan Ekonomi Rakyat Tidak Terbengkalai

Andi Suruji

Tahun 2007 ini kita masuki dengan optimisme setelah melihat indikator ekonomi yang membaik. Laporan akhir tahun 2006 harian ini pun mencatat sekaligus mengingatkan hal itu. Bahkan, ditekankan, 2007 merupakan tahun terakhir bagi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla untuk mengoptimalkan kinerja.

Argumentasinya sederhana. Pada tahun 2008 panggung politik bakal diramaikan aksi pemanasan menuju Pemilu 2009.

Kekhawatiran itu akhirnya memang jadi kenyataan lebih awal dari perkiraan. Bahkan, tahun 2007 baru berjalan separuh lebih, genderang "perang Pemilu 2009" sudah mulai terasa. Manuver elite politik sudah terlihat.

Kesibukan politik tentu bakal menyita waktu dan energi sehingga terbuka peluang bagi elite politik yang ada dalam pemerintahan mengabaikan pekerjaan rumah berupa prioritas pembenahan perekonomian, khususnya yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Sebaliknya pun bisa terjadi, "perhatian" kepada rakyat melimpah dengan kebijakan ad hoc demi kepentingan popularitas dan partai masing-masing. Berbahaya...!

Tidak salah jika muncul kekhawatiran di kalangan dunia usaha bahwa pekerjaan yang sudah bertumpuk untuk perbaikan perekonomian bakal ditinggalkan. Dunia usaha berjalan sendiri karena pemerintah sibuk berpolitik sehingga tidak ada lagi yang in charge untuk menggerakkan pemerintahan yang memang keropos. Apalagi dunia yang terus bergerak dinamis, faktor eksternal bisa memengaruhi kondisi internal.

Mengabaikan urusan perbaikan ekonomi, pembenahan iklim investasi, perpajakan, ketenagakerjaan, tentu sama saja menelantarkan rakyat. Semoga pada 2008, urusan perekonomian yang terkait langsung maupun tak langsung dengan kehidupan rakyat tidak terbengkalai.

Berbagai tantangan pada tahun 2008 sudah jelas tergambar. Harga minyak bumi yang terus berputar-putar pada level tinggi, jauh melampaui asumsi pemerintah saat ini dalam anggarannya, sangat berpotensi menimbulkan persoalan serius jika tidak terkelola dengan baik. Jika harga minyak mentah di pasar internasional mencapai 100 dollar AS per barrel, menurut simulasi pemerintah, subsidi yang ditanggung APBN bisa mencapai Rp 170 triliun. Suatu angka yang bisa merepotkan.

Apakah pemerintah akan konsisten dengan janjinya tidak akan menaikkan harga BBM, atau menyelamatkan APBN dengan mengorbankan rakyat?

Harga komoditas primer lainnya, minyak sawit, juga terus meningkat. Untuk minyak bumi dan minyak sawit, mestinya rakyat Indonesia menikmati manisnya kenaikan harga, tetapi kenyataannya tidak. Yang terlihat adalah antre membeli minyak tanah dan minyak goreng.

Rangkaian tantangan pada tahun 2008 masih panjang. Harga komoditas pertanian lainnya diperkirakan masih terus melonjak karena terganggunya produksi akibat perubahan iklim. Jagung, gula, gandum, kedelai, sampai beras merupakan produk yang harus diimpor dalam jumlah banyak.

Krisis keuangan dan perekonomian AS yang telah menyeret perekonomian global ke dalam gejolak juga masih menjadi ancaman tahun depan. Sampai kini belum ada laporan yang bisa memperkirakan seberapa dalam dan luas dampak krisis keuangan AS yang dipicu kredit macet perumahan terhadap perekonomian global.

Kinerja

Sepanjang tahun ini pemerintahan SBY-JK mencatat kinerja indikator-indikator makro-ekonomi tertentu yang terus membaik. Pertumbuhan ekonomi positif di kisaran 6 persen. Belum cukup, sebab Indonesia memerlukan pertumbuhan yang lebih tinggi lagi untuk membuka lapangan kerja secara memadai.

Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) atau jumlah nilai tambah yang dihasilkan seluruh unit usaha terus menurun. Inflasi yang merupakan terjemahan dari kenaikan indeks harga-harga relatif moderat di bawah 6 persen. Nilai tukar rupiah stabil cenderung menguat di kisaran Rp 9.000-Rp 9.200. Cadangan devisa antara lain disumbangkan ekspor semakin menguat, kini di atas 50 miliar dollar AS. Kinerja ekspor membaik, meski lebih didorong lonjakan harga, bukan karena kenaikan volume.

Akan tetapi, apalah arti indikator makro-ekonomi itu manakala pengangguran tetap tinggi, kemiskinan belum beranjak turun secara signifikan, seperti dilaporkan Senin (10/12). Indikator makro yang baik memang prasyarat investor menanam modal dan membuka lapangan kerja. Tetapi mungkin perlu juga pemerintah "mengorbankan" sedikit kemilau indikator itu, untuk menolong rakyat yang sehari pun belum dapat memenuhi kebutuhan minimum sekalipun.

Bagi mereka perbaikan ekonomi bukan dengan angka makro. Tidak perlu antre beli minyak, biaya sekolah murah, naik bus murah, berobat murah, itulah kesejahteraan bagi mereka.

Panas Sekali

Hari ini hari yang menyebalkan,, macet bo

Senin, 10/12/2007

DINAMIKA
RI perpanjang pencairan utang ADB

JAKARTA: Pemerintah mengajukan perpanjangan pencairan utang senilai US$7,5 juta dari Bank Pembangunan Asia (ADB) yang semestinya diterima pada 2008 untuk membiayai pembangunan enam proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) R.M. Dewo Broto Joko P. mengatakan pemerintah telah meminta penundaan pencairan utang itu menjadi 2011, menyusul belum selesainya persiapan di lapangan."ADB sendiri mempertimbangkan untuk menyetujui, karena proyek ini menggunakan energi terbarukan dan digunakan sebagai bagian dari clean development mechanism," tuturnya kepada pers, akhir pekan lalu.

PLTA yang akan dibangun dengan utang ADB tersebut antara lain PLTA di Papua, Sulut, Kalbar, Gorontalo, Lombok, serta Flores. Utang itu diteken November 2003 dan seharusnya berakhir pada September 2008. Namun, karena masih terkendala penyelesaian proyek di lapangan, pemerintah meminta perpanjangan hingga 2011.

Perpanjangan proyek renewable energy development itu dilakukan karena masih ada hambatan di lapangan terutama terkait pembebasan lahan dan perizinan.� Proses pembangunan PLTA Poigar di Sulut, misalnya, masih terganjal land aquisition and resettlement plan dan belum mengantongi izin penggunaan lahan hutan dari Kementerian Kehutanan. (Bisnis/ags)

http://www.bisnis.com

Senin, 10/12/2007

DINAMIKA
RI perpanjang pencairan utang ADB

JAKARTA: Pemerintah mengajukan perpanjangan pencairan utang senilai US$7,5 juta dari Bank Pembangunan Asia (ADB) yang semestinya diterima pada 2008 untuk membiayai pembangunan enam proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) R.M. Dewo Broto Joko P. mengatakan pemerintah telah meminta penundaan pencairan utang itu menjadi 2011, menyusul belum selesainya persiapan di lapangan."ADB sendiri mempertimbangkan untuk menyetujui, karena proyek ini menggunakan energi terbarukan dan digunakan sebagai bagian dari clean development mechanism," tuturnya kepada pers, akhir pekan lalu.

PLTA yang akan dibangun dengan utang ADB tersebut antara lain PLTA di Papua, Sulut, Kalbar, Gorontalo, Lombok, serta Flores. Utang itu diteken November 2003 dan seharusnya berakhir pada September 2008. Namun, karena masih terkendala penyelesaian proyek di lapangan, pemerintah meminta perpanjangan hingga 2011.

Perpanjangan proyek renewable energy development itu dilakukan karena masih ada hambatan di lapangan terutama terkait pembebasan lahan dan perizinan.� Proses pembangunan PLTA Poigar di Sulut, misalnya, masih terganjal land aquisition and resettlement plan dan belum mengantongi izin penggunaan lahan hutan dari Kementerian Kehutanan. (Bisnis/ags)

http://www.bisnis.com

Tahun Prorakyat dalam Taruhan

Opini
Senin, 10 Desember 2007

Tahun Prorakyat dalam Taruhan

Wisnu Nugroho dan Suhartono

Sejumlah janji Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla semasa kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2004 dipadatkan menjadi rencana dan program kerja sesaat setelah dilantik dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, 20 Oktober 2004. Tiga agenda utama untuk mengubah Indonesia menjadi lebih aman, adil, dan sejahtera dipijak sebagai landasan melangkah. "Bersama Kita Bisa!"

Untuk membuat rakyat Indonesia lebih sejahtera dari masa-masa sebelumnya, kebijakan ekonomi pemerintah dijalankan dengan mengacu pada tiga strategi yang kerap dikumandangkan Presiden pada dua tahun awal pemerintahan, yaitu pro growth (pertumbuhan), pro job (lapangan pekerjaan), dan pro poor (kemiskinan).

Entah kenapa, tiga strategi itu tak lagi kerap disebut di sepanjang tahun 2007. Di awal 2007, alih-alih menyebut tiga strategi itu, Presiden menyebut satu ungkapan baru, yaitu prorakyat yang merupakan rangkuman dari pro job dan pro poor.

Presiden sadar, pertumbuhan yang tinggi tanpa dampak langsung untuk rakyat adalah sia-sia.

"Memang benar, tahun yang kita arungi di waktu lalu adalah tahun yang tidak mudah. Memang benar persoalan itu belum dapat diatasi. Tetapi, tidakkah nyata, atas kerja keras semua pihak, atas dukungan dan kesabaran rakyat, banyak hal sudah dicapai selama ini, seperti di bidang ekonomi, politik, pemerintahan, keamanan, dan peranan internasional? Bidang itu semakin kokoh," ujar Presiden saat pidato awal tahun 2007.

Untuk menciptakan lapangan pekerjaan, selain pertumbuhan industri dalam negeri terus didorong, investasi baru di berbagai bidang, terutama infrastruktur pelabuhan, jalan tol, bandar udara, waduk, dan proyek pembangkit listrik, dipacu agar bergerak lebih cepat.

Dalam upaya mengurangi jumlah rakyat miskin, sejumlah program dikeluarkan dan dilanjutkan, mulai dari bantuan langsung tunai, permodalan usaha kecil dan menengah, bantuan operasional sekolah, serta jaminan Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (Askeskin).

Secara garis besar, rencana besar pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004-2009. RPJM dijadikan acuan semua kepala daerah dalam menyusun program kerjanya.

Pada awalnya manis

Pada awalnya, semua terlihat manis dan menjanjikan. Presiden Yudhoyono sangat optimistis. "Saya melihat peluang dan harapan yang lebih baik di tahun ini (2007) dan Insya Allah di tahun-tahun mendatang," katanya.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, pemerintah menggelar pertemuan pebisnis internasional yang disebut Infrastructure Summit 2007. Ini adalah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama digelar tahun 2005.

Aturan yang selama ini mempersulit pertumbuhan industri dan peluang investasi dipangkas. Ketentuan tentang perburuhan, seperti pesangon dan lainnya, akan direvisi. Badan usaha milik negara (BUMN) yang tidak sehat akan dilikuidasi, selain tetap akan melanjutkan privatisasi.

Bagi puluhan juta rakyat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan, pemerintah mencanangkan revitalisasi pertanian dan perikanan di Waduk Jatiluhur. Pencanangan itu ditindaklanjuti dengan target peningkatan produksi gabah setara beras sebanyak dua juta ton hingga akhir 2007.

Program revitalisasi ini ditopang pemerintah dengan pembagian bibit dan benih unggulan secara gratis kepada petani dan peternak. Nilai anggaran APBN untuk program ini adalah Rp 1 triliun. Guna mempercepat swasembada gula, pemerintah juga melakukan revitalisasi pabrik-pabrik gula.

Menghadapi terus naiknya harga minyak mentah dunia, pemerintah mendorong pengembangan energi alternatif seperti biofuel sebagai pengganti energi berbahan baku fosil. Pemerintah juga bertekad mengganti minyak tanah dengan gas elpiji dalam program konversi minyak tanah. Pemerintah juga mempunyai program baru, meningkatkan produksi minyak mentah di atas 1,043 juta kiloliter per tahun dari sebelumnya di bawah satu juta kiloliter.

Belum terasa

Hampir semua program tersebut, dalam pelaksanaan teknisnya diserahkan kepada Wapres Kalla, dengan monitoring Presiden Yudhoyono. Namun, kemajuan dan capaian seperti yang diharapkan, setidaknya dalam satu tahun ini, belum terasa.

Pertemuan infrastruktur kedua telah berakhir, tetapi proyek infrastruktur berjalan tertatih-tatih. Persoalan tanah, modal, aturan, dan birokrasi menjadi penyebabnya. Pembangunan jalan tol terhalang pembebasan lahan di tengah kemudahan investasi dan akses modal.

Pembangunan bandar udara, pelabuhan, dan pembangkit listrik membentur tembok pendanaan. Untuk menggerakkannya, pemerintah mengeluarkan jaminan pertanggungan oleh APBN yang tidak lain dari uang rakyat, selain skema yang sangat menguntungkan para investor.

Semua rencana dan hambatan yang menghadang telah dicoba diatasi dengan berbagai kebijakan. Untuk mengatasi hambatan birokrasi, Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla langsung turun tangan.

Hambatan birokrasi

Mulai awal 2007, Presiden dan Wapres bergantian dan seperti berlomba-lomba memimpin rapat di belasan departemen teknis dan berbagai instansi.

Meski demikian, hasil kerja dan capaian setiap departemen dirasakan belum memuaskan. "Kadang kala, saya harus memimpin langsung dulu sebelum saya lepaskan kepada mereka dan meminta perkembangannya," ujar Wapres akhir Oktober lalu.

Karena geregetan dengan kerja birokrat, untuk program konversi minyak tanah ke gas, misalnya, hampir setiap minggu digelar rapat di Istana Wapres. Tidak cukup memberi instruksi kepada para menteri, Wapres sampai mengontrol langsung ke pabrik pembuatan kompor, pasokan, dan distribusinya.

Meskipun dipantau dan diarahkan, program pengadaan tabung gas sempat meleset dari sasaran dan menimbulkan kebingungan dan pro kontra, setelah munculnya impor tabung.

Dalam soal penyaluran benih pertanian, Wapres juga mengeluh. "Sudah dibuatkan kerja sama tiga lembaga (BPKP, Kejaksaaan Agung, dan Kepolisian Negara RI) agar penunjukan langsung bibit dan benih gratis untuk menopang dua juta produksi beras dilakukan, sampai sekarang tak lebih dari 50 persen pelaksanaannya," ujarnya.

Untuk jaminan kesehatan penduduk miskin yang angkanya mencapai 37,1 juta jiwa, pemerintah mewujudkan program Askeskin yang merupakan kelanjutan rancangan program pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Askeskin diberikan bukan hanya untuk 37,1 juta jiwa yang benar-benar miskin, tetapi juga rakyat setengah miskin dan kurang mampu. Karena itu, angkanya mencapai 76,4 juta jiwa. Meski sudah rinci dan tegas kebijakannya, dalam pelaksanaan di Departemen Kesehatan, program itu belum berjalan mulus.

Laporan Bappenas memang menyebutkan, selain masih digunakan untuk sebagian belanja barang, sosialisasi untuk Askeskin dianggap kurang. Tahun anggaran berjalan 2007 ini Departemen Kesehatan malah minta tambahan anggaran Rp 1,3 triliun. Namun, yang dipenuhi hanya sekitar Rp 700 miliar. Padahal, total alokasi pemerintah untuk program ini cukup besar, sekitar Rp 3,5 triliun.

Birokrasi berikut aparatnya memang menjadi sumber persoalan untuk pelaksanaan program prorakyat yang dicanangkan dan ingin dituai pemerintah. Aparat yang sebelumnya bebas melakukan apa saja, termasuk kemungkinan menyelewengkan uang negara, sekarang seperti tak berani berkutik. Ketakutan dituding korupsi selalu dijadikan alasan untuk melepas tanggung jawab.

Wapres Kalla pun sempat mengancam aparat birokrasi yang tidak berani berbuat apa-apa sehingga membuat anggaran negara untuk kepentingan rakyat tak terserap. Hingga akhir Oktober 2007, penyerapan APBN untuk pembangunan hanya 30,7 persen atau Rp 20,9 triliun dari total anggaran Rp 68,1 triliun.

Kenyataan tidak jauh berbeda juga terjadi di daerah. Jumlah serapan setiap APBD berkisar di angka 30 persen saja.

Dengan tidak digunakannya anggaran negara yang sudah ada untuk pembangunan, bisa dibayangkan bagaimana pelaksanaan program prorakyat yang sudah dicanangkan sejak awal tahun 2007.

Kini waktu makin sempit karena akhir masa jabatan tinggal dalam hitungan bulan. Upaya menggenjot dan mencetak daftar kata "telah" banyak terlewatkan. Hampir 70 persen rakyat yang mendapat dukungan anggaran pembangunan tidak tersapa dan diperjuangkan.

Dua puluh bulan mendatang, rakyat sudah akan menimbang dan mengambil keputusan di hari penghakiman.